Tak Selalu Hidup Terasing, Begini Aktivitas Biksu ‘Millennial’ di Mongolia


Jika dalam islam ada istilah ustaz, ustazah, serta kiai untuk memberi gelar kepada mereka yang ahli dalam urusan agama, maka di Mongolia ada istilah biksu atau atau bhikkhuni untuk wanita. Mereka ini merupakan orang-orang yang ditahbiskan dalam lingkungan biara Buddhis, atau disebut juga sebagai rohaniawan agama Buddha.

Seperti yang sering disaksikan dalam film-film, para biksu ini biasanya suka menyendiri, bermeditasi, dan cenderung hidup secara tradisional di kuil-kuil. Nah, berbeda halnya dengan para biksu di Mongolia. Zaman kehidupan yang sudah modern juga membuat mereka mampu hidup seperti generasi ‘miillennial’ kebanyakan yang melek teknologi. Jika dilihat secara lebih detail, beginilah kehidupan mereka.

Diberi kendali atas biara-biara Mongolia

Melansir kumparan.com dari Reuters, sejak tahun 1990, para biksu muda atau generasi millennial-nya sudah diberi andil untuk mengendalikan biara-biara di Mongolia. Jauh sebelum kebijakan ini ditetapkan, Umat Buddha pernah terperosok dalam masa lalu yang kelam. Di mana pembunuhan massal pada tahun 1930-an setidaknya melenyapkan 17.000 biksu melalui pembantaian oleh rezim Stalin. Oleh karena hal tersebut, generasi Millennial ditugaskan untuk menjaga eksistensi agama mereka.

Pengajaran yang lebih fleksibel

dalam hal melestarikan generasi berikutnya, para biksu usia 20-30 tahun ini meninggali biara dan menyebarkan ajaran dengan cara yang lebih fleksibel. Salah satu contohnya adalah Biara Amarbayasgalant di Mongolia Utara. Dipimpin oleh seorang kepala biara yang baru berusia 35 tahun, biara ini memperbolehkan para pelajar mereka berinteraksi dengan dumi modern. Di sela-sela pembelajaran, biksu muda diperbolehkan rehat dan bermain basket, mereka juga boleh mengakses internet –meski masih 3G, mereka juga boleh melakukan panggilan telepon walaupun dibatasi waktunya.

Orang pilihan yang memutuskan menjadi biksu

Buddha adalah agama yang paling dominan di Mongolia. Tetapi, agama ini masih menghadapi tantangan besar terkait jumlah pemuka agama yang terus menurun drastis. Menjadi biksu sebenarnya merupakan pilihan yang tak biasa di era dunia modern sekarang. Jarang sekali ada yang mau memutuskan atas keinginan sendiri dan mengabdi kepada kuil, sangat jarang. Kebanyakan dari mereka menjadi seorang biksu karena dorongan dari orangtua. Di samping itu, kehidupan seorang biksu cukup berat mengingat harus menghafal isi kitab suci, melantunkan pujian, dan belajar ilmu penunjang lain.

Kehidupan sebagai guru biksu

Zaman dahulu, orang yang akan mengajar membutuhkan waktu sekitar 20 tahun belajar dan mematangkan ilmu terkait seluk beluk ajaran agama Buddha. Sekarang, aturannya sudah sangat berbeda. Salah satu guru biksu bernama Lobsang Tayang (29) menyebutkan bahwa dirinya hanya butuh waktu empat tahun belajar, kemudian dijadikan sebagai guru untuk para biksu muda yang masih berumur belasan tahun. Dengan usia yang muda, masa belajar yang sebentar, Tayang kadang merasa bahwa dirinya belumlah pantas menjadi seorang pengajar. Tapi mau apa lagi, toh cara itulah yang bisa melestarikan generasi biksu ke depannya kan?

Sama halnya seperti menjadi ulama, biksu adalah profesi di mana butuh hati yang tulus, ikhlas dalam menjalankan tugas, serta mental yang kuat dan tahan banting. Karena hanya dengan beginilah akan tercipta generasi muda yang bisa melestarikan keberadaan agama Buddha di Mongolia.