Sultan Ageng Tirtayasa, Pahlawan Nasional yang Kini Patungnya Dibuang di Tepian Sungai


Sudah bukan hal asing lagi kalau kita melihat beberapa tempat di Indonesia dibangun sebuah patung pahlawan. Patung-patung ini dibuat untuk mengapresiasi jasa para pahlawan yang telah gugur karena membela negara kita. Namun sayangnya, ada salah satu daerah yang tidak memberlakukan hal ini.

Bertempat di Kota Serang, Banten, ada sebuah patung dari pahlawan nasional yang dibuang begitu saja ke pinggiran sungai. Patung tersebut merupakan sosok dari seorang pahlawan bernama Sultan Ageng Tirtayasa. Cukup miris memang, tapi anggota dewan setempat mendesak patung tersebut dirobohkan lantaran takut terjadi sirik. Padahal, kalau patung tersebut tetap berdiri, kita akan selalu mengenang jasa dari Sultan Ageng Tirtayasa. Jadi, siapa sih Sultan Ageng Tirtayasa ini?

Sultan Ageng Tirtayasa ini merupakan anak dari seorang Sultan Banten yang bernama Sultan Abu al-Ma’ali. Nah, setelah sang ayah wafat, Sultan yang memiliki nama kecil Abdul Fatah ini diangkat sebagai Sultan Muda dengan gelar Pangeran Dipati. Namun, ketika sang ayah wafat, Sultan Ageng Tirtayasa ini masih belum diperbolehkan untuk menjadi Sultan Banten karena usianya terlalu muda. Sehingga jabatan sang ayah pada waktu itu digantikan oleh kakeknya yang bernama Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Qadir.

Di tahun 1651, kakek dari Sultan Ageng Tirtayasa meninggal dunia. Jadi pada saat itu pulalah, Pangeran Dipati naik tahta sebagai Sultan Banten ke-6 dengan nama nama Sultan Abul Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa. Tak peduli usianya masih sangat muda, Sultan Ageng Tirtayasa bertekad untuk menjadi Sultan Banten yang cukup baik kepemimpinannya.

Nah, di masa pemerintahannya, Sultan Ageng Tirtayasa lebih memfokuskan kepada perkembangan Islam yang ada di daerahnya. Maka dari itu, dilansir dari laman biografiku.com, ia mendatangkan banyak guru demi memajukan perkembangan Agama Islam di sana. Seperti Guru Agama dari Arab, Aceh dan juga daerah lain yang dianggap memiliki kelebihan dalam mempelajari Islam.

Tak hanya dalam bidang agama, di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa banyak sekali kemajuan yang diraih. Bersumber dari merdeka.com, kemajuannya seperti sistem pertanian, penyusunan armada perang, perdagangan dan juga pelayaran. Bahkan dengan perkembangan inilah, Banten menjadi salah satu pusat perdagangan di Indonesia yang sering dikunjungi oleh negara luar seperti Persia, Arab, India, China dan Filipina.

Tapi, di balik kemajuan yang ia ciptakan, ada konflik panjang antara Kesultanan Banten dan Belanda. Persoalannya karena ikut campurnya Belanda dalam internal Kesultanan Banten yang sedang melakukan pemisahan pemerintahan. Belanda melakukan politik adu domba untuk menghasut Sultan Haji (Abu Nasr Abdul Kahar) melawan Pangeran Arya Purbaya yang merupakan saudaranya sendiri.

Sultan Haji mengira bahwa pembagian tugas pemerintahan oleh Sultan Ageng Tirtayasa kepada ia dan saudaranya merupakan upaya menyingkirkan dirinya dari pewaris tahta kesultanan Banten dan diberikan kepada adiknya, Pangeran Arya Purbaya. Sultan Haji yang didukung oleh VOC Belanda kemudian berusaha menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa.

Pada akhirnya, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan kemudian dibawa ke Batavia lalu dipenjara di sana. Tak berapa lama, pada tahun 1692, Sultan Ageng Tirtayasa akhirnya meninggal dunia. Ia kemudian dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja di Provinsi Banten.

Itu tadi adalah sekelumit cerita dari Sultan Ageng Tirtayasa. Cukup disayangkan melihat perlakuan para warga yang membuang patung dari pahlawan asli di daerahnya. Sebab dari Sultan Ageng Tirtayasalah, Banten menjadi maju dan dapat dikenal oleh negara tetangga. Ya semoga kejadian ini tidak terulang kembali di daerah lain ya. Patung-patung pahlawan ini merupakan salah satu benda untuk mengingatkan kita kepada sosoknya dan juga jasanya.