Soe Hok Gie, Aktivis Sosialis yang Menjadi Kawan Dekat Prabowo Subianto Saat Muda


Romantisme keadaan politik oleh para aktivis muda yang berkembang di era 60-an, seakan tak terpisahkan dengan nama So Hok Gie. Sosok yang dikenal gigih menyuarakan pendapatnya di kala pemerintahan Soekarno itu, menjadi pusaran perhatian lantaran keberanian tulisannya yang tajam dan sarat dengan kritik.

Sayang, usianya terhenti lantaran terkena musibah saat ia dan rekan-rekannya mendaki puncak Gunung Semeru, Jawa Timur, 16 Desember 1969. Tak banyak yang tahu, ia sejatinya pernah bersahabat karib dengan sosok Prabowo Subianto saat muda. Dalam tulisan pada pemilu.tempo.co, keduanya disatukan karena sama-sama cinta akan negara dan bangsa ini. Meski berbeda pandangan, kisah di bawah ini menjadi bukit bahwa mereka ingin bersama-sama berbuat yang terbaik untuk masa depan Indonesia.

Sosok aktivis yang hobi mendaki gunung


Saat terjadi kebuntuan dalam pikirannnya yang terkait dengan kondisi dan situasi politik pada saat itu, Soe Hok Gie meredamnya dengan cara bertamasya ke alam pegunungan. Dalam judul artikelnya, tirto.id menulis judul “Saat Politik Memecah Belah, Mari Naik Gunung Seperti Hok Gie” (6/1/2017). Bagi Gie seorang, gunung bukan sekedar pelepas stres. Tapi, sebagai tempat untuk menguji kepribadian dan keteguhan hati seseorang. Hal ini juga termuat dalam buku kumpulan tulisan Soe Hok Gie, Zaman Peralihan.

Sempat diteror karena tulisan dan kritik-kritk tajamnya


Keberanian Gie menentang arus tercermin aksi-aksinya yang penuh kritikan tajam terhadap pemerintah. Dilansir dari indonesiana.tempo.co, ia pernah Mengempesi mobil para ejabat pemerintah saat berdemo dan menyampaikan gagasan di gerbong-gerbong kereta. Alhasil, kegiatan nekatnya itu sempat membuat pemerintah kaget dan merasa gerah. Sumber liputan6.com juga menulis, Gie sempat dikirimi surat kaleng oleh seseorang yang mengaku pecinta Bung Karno. Pesan misterius bernada umpatan dan rasial itu, merupakan buntut dari tulisannya yang dianggap terlalu “over” yang termuat dalam mingguan Mahasiswa Indonesia.

Dikenal dekat dengan Prabowo Subianto saat muda


Sebelum berkarir di kemiliteran, Prabowo Subianto pernah menjadi teman dekat dari Soe Hok Gie. Sumber dari pemilu.tempo.co menyebutkan, Gie pertama kali bertemu dengan dirinya saat bertamu ke rumah soemitro djojohadikoesoemo, ayah Prabowo. Pria keturunan Tionghoa itu sejatinya mengenal dekat sang ‘begawan ekonomi’ karena tergabung sebagai aktivis sosialis dalam Gerakan Pembaruan bentukan Soemitro. Prabowo yang saat itu berusia 16 tahun, tengah membaca jurnal Indonesia terbitan Cornell University yang membuat takjub Gie muda. keduanya pun bersahabat semakin erat.

Dirikan LSM pertama yang pro kepada masyarakat kecil


Sama-sama peduli tentang isu kebangsaan, Gie dan Prabowo sejatinya memiliki perbedaan dalam berpendapat.  Menurut kakak Gie, Arief Budiman pada pemilu.tempo.co, Prabowo cenderung pragmatis dan menganggap persoalan bangsa lebih penting dari sekedar demokrasi. Sedangkan, bagi seorang Gie, demokrasi tegak dengan memperhatikan hak orang lain. Hebatnya, hal tersebut tak lantas menyurutkan hubungan pertemanan antara keduanya. Diketahui, Gie malah semakin akrab pada pertengahan 1969 saat Prabowo menggagas pembentukan Lembaga Pembangunan. LSM pertama di Indonesia itu, melibatkan pemuda dan organisasi pelajar-mahasiswa untuk menolong rakyat kecil. Di antaranya membantu penyediaan bibit dan ternak, juga menggagas penyediaan layanan bagi orang miskin.

Meregang nyawa saat tenga berada di puncak Gunung Semeru


Gie yang hobi mendaki gunung, akhirnya harus menemui ajal di tempat yang sama. Tirto.id menyebut, Gie meregang nyawa lantaran menghirup gas beracun dan tutup usia. Jelang sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27. Idhan Lubis yang juga rekan satu timnya, ikut menyusul Gie ke alam baka. Aktivis angkatan 60-an itu mati muda di puncak Gunung Semeru. Menghilang bersama gagasan serta sejuta idenya yang hingga kini masih tetap dihidupkan.

Sosok Soe Hok Gie memang telah tiada. Namun, gagasan serta pandangan hidupnya tetap bergema di hati generasi muda bangsa ini. Terutama kata-katanya yang sarat dengan filosofi dan semangat perjuangan. Tokoh nasional seperti Prabowo Subianto pun, sempat menjadi kawan akrab yang menyenangkan meski keduanya memiliki ketidaksamaan dalam berpendapat. Beda boleh, tapi jangan lupakan pertemanan. Bukan begitu Sahabat Boombastis?