Pecinta Teori Bumi Datar Makin 'Terzalimi' Semenjak Google Keluarkan Fitur Baru ini


Google secara resmi merilis fitur baru untuk Google Maps (baca: Maps), yang dapat merubah peta bumi yang awalnya datar menjadi berbentuk bulat (globe). Fitur terbaru ini tergolong menarik, karena dapat membantu kita melihat bagaimana kondisi peta-peta negara di dunia.

Cara untuk mengubahnya cukup mudah, pengguna cukup melakukan zoom out pada Google Maps versi desktop. Secara otomatis, peta akan berubah menjadi bentuk bola selayaknya bentuk Bumi yang kita ketahui.

Namun dibalik kemudahan fitur yang diberikan oleh Google, ternyata ada sekelompok orang yang tidak terima, bahkan menilai kalau salah satu produk Google yang telah dipakai jutaan orang diseluruh dunia itu adalah produk cacat.

Sangat masuk akal jika para pendukung teori Bumi datar sangat kecewa, pasalnya fitur baru yang disebut 3D Globe Mode itu secara langsung mematahkan teori mereka yang meyakini bumi sejatinya berbentuk datar.


Meski sudah diperkenalkan beberapa bulan yang lalu dan diuji coba di kalangan internal, tapi baru beberapa hari ini fitur Globe Mode ini bisa diakses pengguna di seluruh dunia. 

Salah satu fitur yang sangat membantu adalah, dapat memberikan proyeksi yang sangat akurat di wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa (mendekati kutub). Selama ini banyak sekali para pengguna tidak menyadari jika peta memiliki kesalahan, salah satunya gambaran luas Greenland yang terlihat setara dengan Afrika, padahal kenyataannya, ukurannya setara dengan luas wilayah Inggris.

"Dengan 3D Globe Mode di Google Maps desktop, proyeksi Greenland tidak lagi seukuran dengan Afrika," ungkap Google Maps lewat akun Twitter-nya

Meski demikian pihak pendukung teori Bumi datar menilai Google Maps telah memberikan fitur yang cacat. Pete Svarrior, Social Media Manager Flat Earth Society, menilai fitur ini tidak akurat.