Operasi pencarian Lion Air ditutup, berapa yang teridentifikasi?

Operasi pencarian Lion Air ditutup, berapa yang teridentifikasi?

Badan SAR Nasional menyudahi operasi pencarian evakuasi korban dan badan pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610, Sabtu (10/11) siang. Hingga hari terakhir pencarian, sudah ada 79 korban yang teridentifikasi.

Kabasarnas Marsdya TNI M Syaugi mengatakan penutupan terpusat, artinya pencarian tim dari Kantor Pusat Basarnas selesai. Namun, operasi SAR akan dilanjutkan oleh Kantor SAR Jakarta dan Kantor SAR Bandung. Dua tim ini akan terus melaksanakan siaga dan penyisiran Tanjung Pakis.

Penutupan terpusat operasi ini dilakukan setelah Kabasarnas selaku SAR Coordinator (SC) melakukan analisa menyeluruh, koordinasi dengan seluruh stakeholder terkait, masukan dari berbagai pihak, dan melihat data-data faktual di lapangan sampai hari terakhir perpanjangan waktu pelaksanaan operasi.

"Tolok ukur operasi SAR adalah korban. Namun, sejak siang kemarin (Jumat, 9/11) hingga siang ini, tim SAR sudah tidak menemukan korban lagi. Karena itulah, operasi SAR secara terpusat, saya nyatakan ditutup," tegas Kabasarnas didampingi Ketua KNKT Soerdjanto di Posko Terpadu JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok.

Kabasarnas meminta maaf kepada seluruh masyarakat, khususnya keluarga korban, jika selama pelaksanaan operasi SAR terdapat kesalahan atau kekurangan. Ia juga meminta doa agar tim DVI dapat segera mengidentifikasi seluruh korban dari 196 kantong jenazah yang telah berhasil dievakuasi tim SAR.

Sesuai Standard Operating Procedure (SOP), operasi SAR dilaksanakan selama 7 hari. Apabila, masih ada kemungkinan korban ditemukan, maka operasi ditambah 3 hari lagi. Selanjutnya, jika perpanjangan 3 hari tersebut masih kurang dan masih ada lagi tanda-tanda meyakinkan ditemukan korban, maka ditambah lagi selama 3 hari.

Basarnas mencatat dalam pelaksanaan operasi hari ke-13 ini, tim penyelam yang beroperasi di tiga spot atau titik penyelaman, sudah tidak lagi menemukan bagian tubuh korban di dasar area pencarian. Dalam operasi hari ini, Basarnas mengerahkan 40 penyelam Basarnas Special Group (BSG).

Mereka melakukan penyapuan dengan anchor point Kapal Baruna Jaya I pada radius 250 meter persegi. Sedangkan alat yang digunakan meliputi 3 unit KN SAR (Sadewa, Basudewa, dan Rescue Boat 206), 4 Rubber Inflatable Boat (RIB), dan 4 LCR (perahu karet). Selama 13 hari, tim SAR telah berhasil mengevakuasi 196 kantong jenazah yang telah diberi label oleh tim DVI dan telah diserahkan ke RS Polri Kramat Jati.



foto: Twitter/@Sar_nasional

Sementara itu Kepala Bidang DVI Mabes Polri Kombes Pol Lisda Cancer menjelaskan jika kondisi bagian tubuh korban  pesawat Lion Air JT 610 yang diterima oleh tim Disaster Victim Investigation (DVI) Polri dari hari ke hari cenderung semakin buruk. Hingga Sabtu (10/11) DVI menyebut sudah ada 79 korban yang teridentifikasi. 

"Kondisi bagian tubuh hingga sekarang masih seperti sebelumnya, tapi ada kecenderungan lebih buruk. Walau demikian ada beberapa yang kondisinya masih cukup baik. Mudah-mudahan semuanya masih bisa diperiksa," katanya di Jakarta, Sabtu (10/11).

Meski demikian, Lisda mengatakan kerusakan bagian tubuh jenazah korban kecelakaan Lion Air JT 610 karena terendam air adalah relatif namun tetap ada batas waktunya. "Kami punya pengalaman waktu kasus Air Asia, satu setengah bulan di air itu masih bisa diperiksa DNA-nya," ucapnya.

Lisda menambahkan bukan tidak mungkin ditemuinya jalan buntu tidak teridentifikasinya jenazah korban walau sidah mengambil data postmortem dan pemeriksaan sampel DNA, tim DVI akan memakamkannya dengan diberi "peta" keterangan terkait label bagian tubuh dan lokasi pemakaman.

"Dan jika suatu saat ada data tambahan antemortem dari keluarga yang ternyata cocok dengan data postmortem, selanjutnya terserah pada keluarga apakah akan tetap dimakamkan di lokasi itu atau dibawa. Namun mudah-mudahan di kasus ini tidak ada yang seperti itu," jelas Lisda dikutip dari Antara.

Seperti diketahui, pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT-610 rute Cengkareng - Pangkalpinang mengalami kecelakaan 13 menit setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (29/10/2018) pagi. Pesawat dengan yang memebaw 189 orang itu jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat.