Nama Band Superman Is Dead Disebut Plagiat Komik DC, Jerinx Beri Jawaban Menohok


Via Vallen dan Jerinx SID telah saling beri klarifikasi mengenai lagu Sunset di Tanah Anarki yang tengah dipermasalahkan. Bagaimana Via Vallen meminta maaf karena telah menyanyikan lagu Sunset di Tanah Anarki, sekaligus tersinggung dengan ucapan Jerinx yaitu fu*king wh*re, kepadanya, juga mengapa Jerinx hanya menyentil Via Vallen dan bukannya para biduan lain.

Namun rupanya, permasalahan tersebut masih diributkan oleh netizen yang “nimbrung” dalam twiiter Jerinx SID. Seorang pengguna twitter bernama @sabdaliar menulis cuitan kepada Jerinx, “VV (Via Vallen) cover lagu tanpa ijin, setuju itu memang salah! Tapi semoga penggunaan nama “Superman” yg merupakan karakter komik milik DC, tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.”

Hal ini pun ditanggapi Jerinx dengan tenang, ia membalas “Superman di SID tidak mengambil referensi dari DC, tapi dari kutipan Übermensch, konsep filsafat nya Friedrich Nietzche.” Netizen pun tak percaya, sebab mereka hanya mengenal Superman keluaran komik DC (Detective Comics). Seperti halnya @oryza_wirawan dan @motrek_ yang berdebat sendiri di laman balasan tweet Jerinx. @oryza_wirawan ingin mencocokkan referensi yang disebutkan Jerinx dengan pengetahuannya, sehingga mencuit “maaf saya gak serajin abang baca buku filsafat. Kalau boleh tahu, kutipan yg mana tepatnya di buku nietzche yg mengatakan: superman is dead?” yang lalu dibalas oleh @motrek_ “sepertinya bukan Superman Is Dead cak yg dimaksud diambil dr buku Nietzsche. Tp SUPERMANnya. Bli JRX ingin menyampaikan jk Superman pd Superman Is Dead bukan krn komik DC. Tp kembali lg yg tahu ya bli sendiri maksud utama. Kl sy nangkepnya gitu cak.”


Di bawahnya, @oryza_wirawan masih saja meributkan kutipan mana yang menyebutkan Superman Is Dead, bahkan ia mengira bahwa Übermensch adalah seorang filsuf, kawan dari Friedrich Nietzsche. Vyanisty garis keras mungkin, ya. Agar Sahabat Boombastis enggak salah paham dengan maksud referensi yang diberikan Jerinx, Boombastis.com akan menjelaskannya secara mendetil untuk kalian, ya.

Friedrich Nietzsche yang disebutkan oleh Jerinx tadi merupakan seorang filsuf Jerman yang lahir 174 tahun lalu. Ia merupakan filsuf yang terkenal akan pemikiran-pemikirannya di abad ke 19, terutama eksistensialisme dan idealisme Jerman. Pada tahun 1883, ia menulis sebuah buku berjudul Thus Spoke Zarathustra di mana sebuah konsep pemikiran bernama Übermensch muncul.

Übermensch merupakan konsep pemikiran, bukan nama seorang manusia


Ketika tadi “Übermensch” diberondong pertanyaan tentang kutipan yang menyatakan secara gamblang Superman Is Dead, sekali lagi, Übermensch bukanlah nama orang. Übermensch merupakan sebuah konsep pemikiran dari Friedrich Nietzsche tentang tujuan kemanusiaan. Übermensch pun telah ditelaah oleh banyak pakar hingga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Übermensch sendiri merupakan kata dari Bahasa Jerman, ya.

Berbagai macam interpretasi bahasa terhadap Übermensch


Dikutip dari laman en.wikipedia.org, Alexander Tille, seorang filsuf Jerman berhasil menerjemahkan buah karya Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, ke dalam bahasa Inggris, pada tahun 1896, setelah 13 tahun. Ia menerjemahkan Übermensch menjadi Beyond-Man. Pada tahun 1909, Thomas Common, seorang penerjemah asal Skotlandia, menerjemahkan Übermensch menjadi Superman—merujuk pada sebuah drama karya George Bernard Shaw yang berjudul Man and Superman.

Superman sebagai karakter dari komik DC


Pada tahun 1933, The Reign of the Superman, cerita pendek yang ditulis oleh Jerry Siegel dan penggambaran ilustrasi oleh Joe Shuster, dua pentolan dari komik DC, terbit. Awalnya, Superman yang menjadi karakter fiksi pertama mereka merupakan seorang penjahat, yang diinterpretasikan dari pemikiran Friedrich Nietzsche. Namun, tak lama setelahnya, Joe Shuster mengubah karakter tersebut menjadi tokoh superhero. Ternyata Jerry dan Joe juga mengambil referensi dari sini, toh…

Jadi, Superman Is Dead sendiri jika diinterpretasikan ke dalam pemahaman Bahasa Indonesia adalah tujuan kemanusiaan yang telah mati. Tak ayal jika lagu-lagu yang diciptakan oleh Jerinx, Bobby Kool, dan Eka Rock banyak mensiratkan tentang kejadian-kejadian yang miskin dengan kemanusiaa. Pembunuhan Marsinah dan Munir, yang sampai sekarang belum terlihat benang merahnya. Juga hilangnya Wiji Thukul dan aktivis mahasiswa tahun 1998 yang tak jelas hingga sekarang.

Rupanya “penggodokan” nama band Superman Is Dead hingga penciptaan karya-karyanya memang melalui proses yang panjang hingga sarat makna. Pantas saja jika karya-karya mereka dipuji di luar negeri, tapi sayang tak begitu terkenal di negeri sendiri. Hingga banyak netizen di instagram yang menuding bahwa Jerinx memulai pertikaian dengan Via Vallen berazaskan ingin viral agar album barunya laris di pasaran. Sebagai netizen yang budiman dan cerdas, yuk, Sahabat Boombastis kurang-kurangi nyinyir seperti itu. Sebab, rekam jejak Jerinx dan SID sudah jelas, lho, di industri musik Indonesia dan dunia, serta aksi sosialnya yang tak kenal lelah.