Menguak Harta Karun Sisa VOC yang Masih Tersimpan di Gunung Gede


Masa penjajahan Belanda adalah titik pahit di mana Indonesia menderita selama berabad-abad menjadi ‘pembantu’ di rumah sendiri. Para kompeni yang datang tentu untuk mengambil seluruh kekayaan alam yang ada di negeri kita, dan keuntungannya masuk dalam kocek mereka. Setiap penjuru dijelajah dan dilihat, potensi apa saja yang ada di dalamnya.

Salah satu tempat yang mereka singgahi adalah kawasan Gunung Gede yang dipercaya mengandung emas. Tergiur dengan harta kekayaan berharga mahal tersebut, maka kolonial rela turun tangan menembus hutan untuk bisa sampai di sana. Berikut petualangan mereka Boombastis.com rangkum dalam uraian berikut.

Mendapat informasi dari mata-mata

VOC adalah kongsi dagang besar Belanda di masa penjajahan yang memiliki memonopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia, salah satunya Indonesia. Pada adab ke-18, VOC mendapat kabar dari mata-mata bahwa ada sejumlah harta karun di pedalaman daerah pegunungan Gede. Mendengar hal tersebut, di bawah perintah Gubemur Jenderal Zwaardecroon diperintahkanlah anggota Raad Ordinair, Dirk Durven. untuk melihat apakah memang ada barang berharga di sana. Wilayah yang masih berupa hutan lebat tersebut sangat jarang terjamah oleh tangan manusia. Di samping itu tempatnya juga terjal dan menanjak sehingga sangat susah mencapai puncak pegunungan.

Bekas pertambangan yang membuat harapan semakin tinggi

Kedekatan Durven dengan Gubernur Zwaardecroon membuat ia menjadi pemimpin dalam ekspedisi ini. Setelah perjalanan panjang yang memakan waktu cukup lama, ia akhirnya sampai di daerah yang dituju. Dalam mencari harta karun tersembunyi ini, Durven membonceng pasukan militer yang cukup kuat, terdiri dari bekas pekerja-pekerja tambang yang menjadi serdadu VOC di garnisun Batavia. Seperti dilansir dari Grid.id, di kaki pegunungan tersebut memang ada sejumlah terowongan tambang yang tak terpakai lagi, sehingga orang mengambil kesimpulan bahwa dulu memang pernah ada yang mengusahakan penggalian bahan tambang dari sini.

Menyengsarakan rakyat Indonesia semata

Karena jarak yang jauh dari Batavia (Jakarta) maka para penggali ini membutuhkan supply makanan serta tenaga kerja tambahan. Maka, sesuai dengan kebiasaan para kompeni yang main perintah saja, mereka mengerahkan kerja paksa para rakyat (kebanyakan dari Bandung) untuk kemudian membantu menggali emas yang diharapkan ada di dalam tanah tersebut. Para petani yang kurang lebih berjumlah 30.000 orang dipaksa meninggalkan sawah mereka dan bekerja, sehingga dari paksaan bekerja ini rakyat menderita kelaparan. Operasi ini berakhir tanpa membuahkan hasil, tak ada emas yang mereka impikan. Berdasarkan penyelidikan tempat tersebut hanya menyimpan timah hitam, sebelumnya juga pernah digali oleh orang-orang China.

Membuat laporan bagus ke atasan demi kekuasaan

Sementara rakyat berjuang sia-sia dan menderita, Si Dirk Durven sibuk membuat laporan bagus kepada pemimpin kompeni, ayah sifatnya hanya sebatas Asal Bapak Senang. Durven melakukan semua laporan palsu karena ingin menarik perhatian sebanyak mungkin sehingga dirinya bisa naik jabatan ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah hanya ada laporan tanpa hasil, ekspedisi yang sudah berjalan empat tahun ini (1729- 1732) ini dihentikan oleh pucuk pemimpin kolonial Belanda. Walaupun misinya gagal, tidak berlaku bagi Durven karena dirinya malah berhasil naik ke jenjang kekuasaan Kompeni, yakni menjadi Gubernur Jenderal.

Begitulah, piciknya akal para kolonial berdampak sangat buruk bagi rakyat Indonesia. Harta karun tersebut hanya sebagai tipu-tipu untuk mendapatkan jenjang kekuasaan yang lebih tinggi. Pada akhirnya, akibat dari perbuatan mereka rakyat yang memanen hasilnya.