Mengenal Merpati Air, Maskapai Legendaris Indonesia yang Bakal Mengudara Kembali


Meski sempat berhenti beroperasi karena bangkrut pada 1 Februari 2014 silam, maskapai legendaris Merpati Air ternyata berusaha bangkit dari tidur panjangnya. Sumber dari cnnindonesia.com menyebutkan, perusahaan yang bernama PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) akan kembali mengudara pada 2019 mendatang.

Hal ini tentu saja menjadi kabar gembira. Terutama bagi mereka yang dulu pernah merasakan enaknya menaiki Merpati Air. Pada era keemasannya, maskapai ini banyak menjadi pilihan karena menjanjikan performa penerbangan yang baik. Meski sempat bangkrut, kebangkitan Merpati di tahun 2019 tentu bakal meneruskan kesuksesannya di masa lalu. Seperti apa perjalanan Merpati Air di industri penerbangan tanah air?

Menjadi maskapai favorit dia tahun 80-an dan 90-an


Diperkuat kerjasama dengan Garuda Indonesia, Merpati tumbuh menjadi salah satu maskapai penerbangan yang bergengsi di masanya. Dilansir dari finance.detik.com, perusahaan tersebut sempat memiliki hingga 100 armada di tahun 1989-1992. Pada masa kejayaannya, hampir semua jenis pesawat dimiliki oleh maskapai pelat merah tersebut. Di antaranya adalah pesawat jet seperti Fokker-28, Fokker-28, dan DC-9 dan tipe baling-baling yang berukuran kecil.

Mulai bermasalah dan terlilit banyak hutang


Di era keemasannya, Merpati tumbuh di bawah kepemimpinan Capt. F.H. Sumolang sebagai Direktur Utama. Sayang, kinerja perusahaan merosot saat sang pemimpin tak lagi menjabat dan kerjasama dengan Garuda terputus. Sumber dari finance.detik.com menuliskan, kinerja keuangan perusahaan semakin anjlok pada 1993. Hal ini diperparah dengan pergantian pemimpin yang silih berganti, namun tak kunjung membawa perbaikan di tubuh Merpati Air. Pada titik inilah, maskapai yang berdiri pada 6 September 1962 tersebut berada di ambang kebangkrutan.

Dianggap bangkrut dan berhenti beroperasi


Puncaknya terjadi pada Februari 2014. Di mana Merpati Air yang saat itu di bawah kepemimpinan Capt. Asep Ekanugraha, harus mengalami kesulitan keuangan dan sedang menjalani program restrukturisasi. Dilansir dari finance.detik.com, dari 100 armada yang dimiliki, kini hanya menyisakan 18 unit saja. Itupun bukan masuk kategori pesawat baru, seperti: Boeing 737-500, Boeing 737-400, Boeing 737-200, MA 60, Cassa 212, dan Twin Otter. Alhasil, Merpati berhenti beroperasi melayani rute-rute di tanah air maupun internasional.

Berencana bangkit kembali dan mengudara pada 2019


Setelah ‘tidur panjangnya’, Merpati Air kini mencoba bangkit kembali di ranah bisnis penerbangan Indonesia. Sumber dari cnnindonesia.com menuliskan, ada sebuah investor swasta yang bersedia menanamkan dana hingga Rp6,4 triliun agar ‘sang burung’ kembali terbang pada 2019 mendatang. hal ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi masyarakat yang kangen dengan sosok maskapai tersebut. Tak hanya itu, aktivitas bisnis Merpati diharapkan juga berdampak positif pada peningkatan penerimaan pajak, dan penyerapan tenaga kerja bagi pemerintah Indonesia.

Persaingan bisnis antar maskapai yang terbilang cukup sengit di Indonesia, menjadi pelajaran yang berharga bagi Merpati Air untuk berbenah diri ke depannya. Terlebih, saat ini ada banyak jenis penerbangan murah (low cost carrier) yang ditawarkan oleh maskapai penerbangan di indonesia. Meski sempat hilang dari peredaran, nama besar Merpati dan prestasinya di masa lalu juga bisa menjadi nilai lebih untuk bersaing dengan maskapai lainnya. Semoga saja ya Sahabat Boombastis.