Curhatan Baiq Nuril ke Jokowi: Pak Presiden, Saya Di Sini Cuma Korban


Jakarta, IDN Times - Baiq Nuril Maknun menangis ketika mengetahui ia kembali terancam segera dibui dan diwajibkan membayar denda sebesar Rp500 juta kepada negara. Ancaman itu merupakan putusan Mahkamah Agung yang diterima oleh koordinator kuasa hukum, Joko Jumadi bagi kliennya pada Jumat pekan lalu. 

Di tingkat kasasi, hakim MA menyatakan Nuril terbukti telah melakukan pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) nomor 19 tahun 2016. Ia terbukti telah menyebarluaskan materi pembicaraan asusila Kepala SMAN 7 Mataram yang bernama Muslim. Kepada Nuril, Muslim kerap menceritakan pengalamannya berhubungan badan dengan perempuan lain yang bukan istrinya. 

Untuk membuktikan kalau ia tidak memiliki hubungan gelap dengan Muslim, Nuril kemudian merekam pembicaraannya dengan si kepala sekolah. Di dalam persidangan tingkat pertama pun sudah terbukti, materi pembicaraan itu bisa bocor bukan karena perempuan berusia 37 tahun itu. 

Kini bui selama enam bulan sudah menghantui Nuril. Ia pun kemudian meminta keadilan kepada Presiden Joko "Jokowi" Widodo. 

"Untuk Pak Presiden, saya di sini, saya cuma minta keadilan, karena saya di sini cuma korban," kata Nuril sambil menangis terisak-isak pada Senin (12/11) di rumahnya. 

Lalu, apa yang bisa dilakukan publik untuk meringankan beban Nuril? 

1. Baiq Nuril mempertanyakan putusan Mahkamah Agung yang menyatakannya bersalah


Nuril sempat menghirup udara bebas pada 26 Juli 2017 lalu lantaran di pengadilan tingkat pertama dinyatakan tidak bersalah. Namun, putusan kasasi di tingkat Mahkamah Agung justru menyatakan hal yang sebaliknya. Majelis hakim justru menganulir putusan tidak bersalah itu. 

"Saya rasa ini betul-betul tidak adil bagi saya... dan denda lima ratus juta itu..."kata Nuril sambil menangis di rumahnya di area Lombok barat. 

Bekas pegawai honorer bagian Tata Usaha (TU) SMU 7 Mataram itu sudah tahu kalau jaksa mengajukan kasasi ke tingkat MA. Namun, tim kuasa hukum membesarkan hati dan menyebut tidak mungkin ada celah kasasi akan dikabulkan. 

"Karena semua saksi, termasuk saksi ahli menyatakan saya tidak bersalah. Ini betul-betul tidak adil bagi saya," kata dia. 

Sementara, Wakil Koordinator PAKU, Rudi mengatakan vonis enam bulan penjara adalah hukuman terberat yang dijalani korban penerapan UU ITE pasal 27 ayat 3. 

2. Nuril menegaskan ia merekam pembicaraan itu karena membela diri


Nuril menegaskan alasan ia merekam pembicaraan teleponnya dengan mantan Kepala SMUN 7, Muslim, karena ingin membela diri. Ia sudah coba menghindar dan tidak mengangkat telepon dari Muslim, namun si kepala sekolah mengancam akan memecat Nuril seandainya tidak mendengarkan pembicaraan dengan isi asusila tersebut. 

"Apa saya salah, kalau saya mencoba membela diri saya dengan cara-cara saya sendiri?," tanya Nuril sambil berurai air mata. 

3. Publik melakukan penggalangan dana untuk membantu membayar denda Rp500 juta


Ketidakadilan yang menimpa Nuril kemudian menggerakan publik untuk melakukan penggalangan dana agar ia bisa membayar denda sebesar Rp500 juta. Penggalangan dana diinisiasi oleh Anindya Joediono yang mengaku juga merupakan korban dari penerapan UU ITE pasal 27. 

"Ini adalah cerminan dari institusi hukum kita yang lagi-lagi gagal melindungi perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual. Kami yang seharusnya dilindungi, melainkan malah dijadikan pelaku tindak kriminalitas," tulis Anindya. 

Hingga saat tulisan ini diturunkan, nominal donasi yang masuk telah menyentuh angka Rp12,1 juta. Nominal itu diprediksi akan terus bergerak hingga 90 hari ke depan. Anindya menargetkan akan mengumpulkan donasi hingga Rp550 juta.