Batu Quran, Tempat Syeikh Mansyur Menghilang dan Muncul di Mekkah Dalam Sekejap Mata!


Ada suatu tempat yang terkenal akan legendanya di kaki Gunung Karang, Desa Kadubumbang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Di tempat itu, terdapat sebuah destinasi wisata religi bernama “Batu Quran”. Tempat ini diyakini keramat dan sarat akan mitologi.

Berdasarkan cerita masyarakat setempat, lokasi tersebut adalah tempat pijakan Syeikh Mansyur ketika hendak pergi ke Mekkah. Beliau tak perlu repot-repot melakukan perjalanan panjang untuk pergi ke Mekkah. Di tempat itu, sembari mengucap basmalah, beliau bisa langsung sampai ke Kota Suci umat Islam dalam sekejap mata.

Sepulangnya dari sana, beliau muncul melalui sumber mata air yang ada di situ. Dan banyak orang meyakini bahwa mata air tersebut adalah kucuran air zam-zam.

Alkisah, suatu ketika Syeikh Mansyur tengah bermunajat di lokasi tersebut. Beliau berdoa kepada Allah sembari melakukan serangkaian salat dua rakaat.

Setelah selesai bermunajat, beliau mendapat petunjuk supaya menutup sumber air itu sehingga tak mengalir terus menerus. Untuk menutupnya, disarankan menggunakan Al-Quran.

Ketika Al-Quran disumbatkan, tiba-tiba berubah menjadi batu. Kemudian dia menuliskan ayat Al-Quran di batu tersebut dengan telunjuk jarinya. Seperti yang diyakini masyarakat, tulisan itu bersifat ghaib.

Itulah asal usul legenda Batu Quran yang ada di Banten itu. Cerita tersebut sangat populer di masyarakat sampai sekarang


Syeikh Maulana Mansyur sendiri merupakan seorang ulama penyebar agama Islam pada zaman dulu. Beliau merupakan putra Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa, Sultan Banten ke-6.

Ketika ayahnya berhenti, posisi kesultanan jatuh ke tangannya. Sejak itu dia dikenal sebagai Sultan Haji. Setelah dua tahun menjalankan kewajibannya, beliau pergi ke Irak dengan tujuan mendirikan Negara Banten di sana.

Akhirnya, tampuk kekuasaan Kesultanan Banten dipercayakan kepada putranya, Pangeran Adipati Ishaq atay Sultan Abdul Fadhli. Namun ternyata, Pangeran Ishaq terbujuk oleh orang lain untuk mengambil ahli kekuasaan ayahnya.

Kabar tersebut terdengar oleh Sultan Agung Abdul Fatah. Dia menolak pergantian sultan yang dilakukan oleh Pangeran Ishaq. Sebab, Sultan Mansyur masih hidup.

Oleh karena itu, pergantian kepemimpinan ditangguhkan sampai Sultan Mansyur pulang dari Irak. Namun di tengah penantian itu, tiba-tiba ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Syeikh Mansur.

Kehadiran Syeikh Mansur palsu ini berhasil memicu kegaduhan di Banten. Kekacaun tersebut baru terselesaikan ketika Syeikh Mansur asli datang. Kedatangnya menjadi pelita di tengah kegelapan. Masyarakat bisa kembali tenang di bawah kepemimpinannya.