8 Fakta Insiden 'Surabaya Membara' yang Berujung Maut, 3 Orang Meninggal karena Tertubruk Kereta Api


TRIBUNNEWS.COM - Drama kolosal "Surabaya Membara" yang digelar Jumat malam (9/11/2018) rupanya memakan korban.

Pertunjukan tersebut digelar untuk memperingati Hari Pahlawan yang disambut antusias oleh warga Surabaya.

Namun, acara tersebut justru berujung tragis.

Setidaknya tiga orang meninggal dunia dan beberapa lainnya terluka.

Banyak penonton yang menyaksikan drama dari viaduk dan tidak menyangka ada kereta api yang melintas saat itu.



Berikut fakta-fakta insiden drama kolosal "Surabaya Membara" yang berujung maut yang dirangkum Tribunnews.com:

1. Waktu dan tempat kejadian


Insiden terjadi Jumat malam (9/11/2018) sekitar pukul 19.45 di viaduk Jalan Pahlawan Surabaya.

Saat warga sedang menyaksikan teatrikal "Surabaya Membara" dari viaduk, kereta api dari arah Stasiun Gubeng menuju Stasiun Pasar Turi melintas.

Viaduk dibuat khusus sebagai jembatan rel perlintasan.

Hanya ada sedikit jarak dari tepi viaduk dengan gerbong kereta api sehingga penonton berdesak-desakan.


2. Kronologi kejadian


Saat penonton sedang menyaksikan pertunjukan dari viaduk, kereta api tiba-tibe melintas.

Banyaknya jumlah penonton membuat mereka berdesak-desakan di tepi viaduk agar tidak tertabrak kereta.

Namun, akibat desak-desakan itu, setidaknya ada 3 orang yang terjatuh dari viaduk dengan ketinggian 7 meter tersebut.

Ada pula korban yang diduga terlindas kereta api karena tak sempat menyelamatkan diri.

Menurut keterangan saksi bernama Sukri (52) yang menyaksikan dari bawah vaiduk, ada banyak sekali orang yang menonton dari atas viaduk.


"Saat itu banyak sekali pemuda pemudi yang menonton dari atas viaduk dan memenuhi rel kereta api," ujar Sukri, dikutip dari Kompas.com.

"Saat itu di atas sudah mulai gaduh, dan penonton yang di bawah viaduk mulai berteriak-teriak agar mereka penonton yang di atas turun."

Kereta tidak berhenti, namun terus melintas di viaduk dengan pelan. Penonton di viaduk sebisa mungkin menghindari badan kereta dengan saling memegang tubuh.

"Karena mereka saling berpegangan, karena satu jatuh, lainnya juga ikut jatuh, suasana saat itu mendadak gaduh, karena ibu-ibu berteriak histeris," jelasnya.

Sukri baru tahu bahwa ada penonton yang terlindas setelah petugas membawa sebuah kantong berisi tubuh manusia ke bawah viaduk.



3. Kereta sudah menurunkan kecepatan


Menurut Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Gatut Sutiyatmoko, kereta api yang melintas tersebut sudah menyembunyikan semboyan 35 (suling lokomotif).

Kecepatan kereta pun sudah diturunkan sampai 15 km/jam, sementara kecepatan normal di jalur itu hanya 30 km/jam.

Namun, Gatut menjelaskan bahwa bermain di jalur KA, apalagi di jembatan atau viaduk sangatlah berbahaya, karena kereta api tidak bisa berhenti mendadak.


4. Tidak ada koordinasi dari panitia dengan KAI


Gatut Sutiyatmoko, Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 8 Surabaya menyatakan tidak adanya koordinasi dari pihak panitia penyelenggara drama kolosal dengan PT KAI.

"Kelalaian panitia penyelenggara juga, karena tidak ada koordinasi dengan KAI dan tidak ada imbauan atau larangan untuk tidak menonton di jembatan viaduk KAI. Jalur kereta api (KA) tersebut aktif setiap hari, dilewati KA penumpang dan barang," jelas Gatut Sutiyatmoko usai kejadian tersebut.


5. Alasan penonton menyaksikan drama dari atas viaduk


Berdasarkan keterangan saksi, warga melihat acara itu dari atas di viaduk karena view-nya lebih bagus daripada melihat dari bawah.

Namun, hal itu tidak bisa dibenarkan karena viaduk merupakan perlintasan kereta api yang sangat membahayakan, apalagi ukuran viaduk yang sempit yang memang didesain untuk perlintasan kereta api saja.


6. Panitia sudah memperingati penonton untuk tidak menonton dari atas viaduk


Seperti yang dilansir dari Surya, Taufik Monyonk alias M Taufik Hidayat selaku ketua Komunitas Surabaya Membara menjelaskan bahwa tragedi di atas viaduk Jalan Pahlawan itu ada di luar kendali panitia.

Ia mengaku sudah mengingatkan berulang kali kepada para penonton di atas viaduk agar turun.

"Kami sudah menghimbau berulang kali, mereka hanya acungkan jempol. Di luar kendali kami karena lokasi yang kami siapkan di Jalan Pahlawan. Lepas rel di luar pengawasan kita, bahkan penonton sampai Pasar Turi," katanya.

Taufik mengaku jarak pandangnya tidak sampai ke arah viaduk.

"Memang dua, tiga tahun lalu tidak ada kereta lewat, sampai selesai acara. Saya juga tidak tahu jadwal kereta lewat, kok tadi ada kereta lewat," tambahnya.

7. Acara tetap dilanjutkan meski ada korban berjatuhan


Drama kolosan "Surabaya Membara" tetap berlanjut meski ada korban yang luka-luka bahkan meninggal dunia.

Taufik Monyonk alias M Taufik Hidayat selaku ketua Komunitas Surabaya Membara punya alasan sendiri kenapa pertunjukan itu tetap diteruskan meski pihak panitia sudah tahu adanya kecelakaan.

Taufik menjelaskan bahwa para pemain drama sudah bekerja kerjas.

Ada banyak pemain dari daerah yang latihan satu bulan, banyak yang syok juga.

Taufik merasa kasihan jika mereka tidak jadi tampil.

Meski begitu, durasi pertunjukan dikurangi dari semula 60 menit menjadi 40 menit.

8. Data korban luka dan meninggal


Setidaknya ada 3 orang meninggal dunia dan belasan lain luka-luka dalam insiden tersebut.

Semua korban dilarikan ke 3 rumah sakit berbeda, yaitu RSUD Dr. M. Soewandhie, RSUD Dr Soetomo dan Rumah Sakit PHC Surabaya.

Melansir Surya, satu dari tiga orang yang tewas kondisinya mengenaskan akibat terlindas kereta rute Sidoarjo-Pasar Turi tersebut.

Hingga kini, 2 identitas korban meninggal belum diketahui karena saat dievakuasi karena tidak ditemukan kartu identitas yang dibawanya.

Sementara satu korban tewas lainnya bernama Erikawati (9), pelajar kelas III SD.