5 Wilayah Indonesia Paling Tangguh yang Bikin Belanda Kewalahan


Sejak masih sekolah kita sudah dicekoki dengan dengan mata pelajaran sejarah yang menjelaskan bahwa Indonesia dijajah selama 350 tahun lamanya. Apakah benar demikian faktanya?

Nyatanya, ada sejumlah wilayah di tanah air yang membuat penjajah Belanda kewalahan untuk menaklukkannya. Meski notabene peralatan perang yang digunakan para penjajah itu lebih canggih dari peralatan para pejuang kita.

Mana sajakah wilayah Indonesia yang membuat para penjajah itu kewalahan? Yuk simak.

1. Aceh


Aceh menjadi salah satu wilayah yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda di tanah air. Bagaimana tidak selain memiliki pemimpin perang yang hebat, Aceh juga memiliki kekuatan militer dan sipil yang tangguh.  

Sejak masuk ke tanah air, pada tahun 1850-an Kompeni Belanda baru menyatakan perang dengan Aceh pada tahun 1870-an. Lantaran perjanjian antara Belanda dan kerajaan Aceh dilanggar oleh Belanda.

Sejak Saat itu perang terus berkecamuk di berbagai titik di tanah Serambi Mekah. Belanda baru berhasil menaklukkan Aceh secara menyeluruh pada tahun 1914 atau 31 tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. 

Belanda harus bekerja ekstra untuk menaklukkan pejuang-pejuang dari Aceh yang tangguh. Kemenangan Belanda juga sebenarnya tak berlangsung lama, karena pada tahun 1942 Aceh kemudian direbut oleh Jepang sebelum akhirnya merdeka pada 1945.

2. Nias


Nias memang dikenal sebagai daerah yang kaya sejak jaman dahulu. Hal itulah yang membuat Belanda sangat ingin menguasai daerah itu secara utuh. Namun suku Nias yang memang terkenal sebagai petarung tak menyerahkan kekayaan buminya begitu saja kepada kompeni.

Petarung-petarung di Nias selalu berhasil membuat pasukan Belanda kerepotan apalagi suku Nias memang selalu waspada dengan pendatang yang mencurigakan.

Sedikitnya butuh waktu sekitar 90 tahun untuk Belanda bisa menaklukkan Nias secara utuh itupun dilakukan dengan cara licik. Belanda masuk ke Nias pada 1825 dan baru berhasil menguasai Nias pada tahun 1914.

3. Bali


Usaha Belanda untuk bisa menguasi Bali tak pernah mudah, kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Dewata selalu berhasil memukul mundur Kompeni itu. Tak hanya tangguh bertarung secara fisik, serangan-serangan licik berupa politik adu domba yang dilancarkan Belanda juga selalu menemui jalan buntu.

Perang  antara Belanda dan Bali berkecamuk sejak 1846 hingga 1908. Butuh waktu sekitar 62 tahun untuk Belanda baru berhasil mengusai Bali secara meyeluruh. Pasukan dari kerajaan di Bali mulai melemah dan tidak bisa menghadapi serangan dari pasukan Belanda yang jumlahnya sangat besar. Kerajaan-kerajaan di Bali akhirnya menyerah karena tidak memiliki lagi daya untuk melawan Belanda yang kian tangguh.

4. Tapanuli 


Selain Aceh, Tapanuli adalah kawasan di Pulau Sumatera yang sangat sulit ditaklukkan oleh Belanda. Tapanuli yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Batak membuat daerah itu menjadi sangat tangguh untuk tentara Belanda.

Perang antara Belanda dan  pasukan kerajaan Batak dibawah pimpinan Sisingamangaraja XII berlangsung sangat alot. Perang yang dimulai pada tahun 1878 itu baru berakhir pada tahun 1907, setelah Sisingamangaraja XII gugur di medan perang. 

Gugurnya Sisingamangaraja XII membuat Belanda berhasil menguasai Tapanuli dan seluruh wilayah di sekitarnya yang masih berada di bawah kendali kerjaan Batak.

5. Jambi


Alasan Belanda sangat ingin meguasai Jambi adalah karena daerah ini kaya akan hasil bumi berupa rempah terutama Lada. Saat itu Lada banyak sekali dicari karena rempah ini banyak diekspor ke beberapa negara di Eropa dengan harga selangit.

Belanda pun mulai masuk ke Jambi pada tahun 1833, saat itu Jambi masih di bawah kekuasaan Kesultanan Jambi. Meski dibekali dengan pasukan dan persenjataan yang canggih, butuh waktu sekitar 71 tahun untuk Belanda bisa menundukkan Kesultanan Jambi.

Kala itu kekuatan Kesultanan Jambi mulai melemah setelah memasuki masa periode raja Thaha Syaifuddin bin Muhammad. Kesultanan Jambi pun memasuki masa kehancuran dan berhasil ditaklukkan oleh Belanda.