5 Mobil Nasional Buatan Indonesia yang Kini Hanya Tinggal Kenangan, Esemka Harus Berkaca


Sebagai bangsa yang besar, Indonesia juga memiliki mimpi untuk memiliki mobil nasional (mobnas) sendiri yang berasal dari talenta kreatif dalam negeri. Dilansir dari tirto.id, keinginnan ini bahkan telah dicanangkan sejak era Orde Baru berkuasa di Indonesia. Akhirnnya, muncullah merek Timor dan Bimantara dan menjadi produk otomotif yang begitu bersinar di masanya.

Tak hanya Timor dan Bimantara, sejumlah merk pun ikut bermunculan meramaikan pasar otomotif di Indonesia. Sayang, kiprah mereka ternyata tak sanggup bertahan lama. Satu persatu dari merk yang ada pun harus berguguran. Hilang tak berbekas hingga saat ini. Meski demikinan, Indonesia setidaknya punya satu harapan lagi untuk membuat mobil nasional lewat esemka. Setidaknya, produk baru tersebut harus belajar dari kesalahan para pendahulunya di bawah ini, agar tak ikut hilang terseret arus globalisasi.

Keberadaan mobil Timor yang melejit hingga mati perlahan-lahan


Berawal dari dikeluarkannya Inpres Nomor 2 Tahun 1996, proyek tentang mobil nasional harus secepatnya diwujudkan. Dilansir dari republika.co.id, Pemerintah pusat menunjuk PT. Timor Putra Nasional (PT. TPN) yang dimiliki oleh Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto untuk membuatnya. Mobil Timor pun secara resmi diluncurkan pada 8 Juli 1996 di Jakarta. Sayang, krisis ekonomi dan kejatuhan rezim Soeharto membuat mobil ini akhirnya tenggelam tak berbekas.


Bimantara yang setali tiga uang dengan Timor


Senada dengan yang dialami oleh Timor, mobil nasional bernama Bimanatara yang dikelola oleh Bambang Trihatmojo, juga ikut-ikutan bangkrut terkena bada krisis ekonomi dan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan. Dilansir dari tirto.id, kedua merk yang notabene dimiliki oleh anak-anak Presiden Soeharto, saling bersaing sengit satu dengan lainnya. Pihak Jepang yang sudah lama merintis investasi otomotif Indonesia sejak 1970-an, akhirnya mengadu ke World Trade Organization (WTO) pada 1996. Mereka menilai, keberadaan mobil nasional yang murah meriah dan bersubsidi, dianggap melanggar ketentuan General Agreements on Tariff and Trade (GATT). Ditambah adanya krisis ekonomi, baik Timor maupun Bimantara tak terdengar lagi kabarnya.

Sedan Beta 97 MPV buatan Grup Bakrie yang tenggelam sebelum mengaspal


Melalui Bakrie Brothers, Grup Bakrei berinisiatif menjalankan proyek mobil nasional pada tahun 1994. Dilansir dari finance.detik.com, rancangan yang diberi nama Beta 97 MPV itu, digarap secara khusus dengan mengandeng rumah desain Shado asal Inggris untuk menciptakan desain awal mobil ini. Hingga pada April 1995, purwarupa Beta 97 MPV pun telah selesai dan mulai diperlihatkan ke manajemen Bakrie dan berlanjut pada proses pengembangan sampai prototipe mobil ini selesai di tahun 1997. Sayang, saat akan diluncurkan pada bulan Desember 1997, Indonesia dihantam krisis yang akhirnya membuyarkan impian Grup Bakrie untuk melihat Beta 97 MPV di jalanan.


Maleo yang kini telah terlupakan


Sebelum kemunculan Timor dan mobnas lainnya, IPTN ditunjuk secara khusus untuk mengembangkan mobil nasional yang memiliki ciri khas nusantara. Dilansir dari finance.detik.com, perusahaan pelat merah itu kemudian menggandeng Rover, Inggris dan Millard Design Australia. BJ Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menristek, berhasil membuat 11 rancangan mobil hingga tahun 1997. Sayang, proyek besar itu akhirnya terhenti saat tumbangnya era Orde Baru di tangan gerakan reformasi. Maleo pun kini tak lebih dari onggokan sejarah yang hampir terlupakan.

Truk perkasa buatan Texmaco yang tak sekuat namanya


Berbeda dengan mobnas lain yang berada di segmen kendaraan keluarga, truk Perkasa buatan PT. Wahana Perkasa Auto Jaya yang bernaung di bawah grup Texmaco. Dilansir dari imotorium.com, kendaraan ini mulai diproduksi pada tahun 1999 dan mulai memuat bus pada 2001. Sayang, keberadaannya tak sesukses yang dibayangkan. Dari sekian unit yang diproduksi, hanya lingkungan TNI dan beberapa perusahaan bus yang tertarik menggunakannya. Carut marut finansial dan konflik internal perushaan, membuat produksi Perkasa tersendat hingga akhirnya berhenti total.

Beban berat kini disandang oleh Esemka, yang digadang-gadang sebagai mobil nasional berikutnya. Jika melihat dari faktor kegagalan para mobnas pendahulunya, Esemka harus memiliki strategi khusus agar tak ikut gagal terjerembab dalam lubang yang sama. Mudah-mudahan enggak ya Sahabat Boombastis.